14 December 2006

Bank Asing Caplok Bank di Indonesia

Penetrasi lembaga keuangan asing pada perbankan Indonesia terus dilakukan. Setidaknya tiga bank asing telah memastikan meneken CSPA (conditional sales and purchase aggrement) dengan bank lokal.

Di antaranya ICBC (Industrial And Comercial Bank Of China) asal Tiongkok dengan Bank Halim, Bank Commonwealth (Australia) dengan Bank Ank serta Bank of India dengan Bank Swadesi. Bank-bank dari timur tengah juga telah mengemukakan minatnya, meski belum ada yang menandatangani proses persyaratan jual beli saham tersebut.

“ICBC sudah menandatangani SPA (sale and purchase agreement) dengan Bank Halim, sedangkan Commonwealth juga sudah ada SPA dengan ANK,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Siti Fadjrijah, di Jakarta kemarin.

Bank Commonwealth merupakan bank asal Australia yang fokus pada sektor UKM. Ini ditandai posisi kredit yang sebesar Rp 1,3 triliun hingga semester pertama tahun ini, kurang lebih Rp 500 miliarnya adalah kontribusi sektor usaha kecil menengah (UKM).

Public Relation Manager Bank Commonwealth Hafiz saat dihubungi kemarin mengemukakan bahwa pihak masih menyiapkan pernyataan resmi untuk menanggapi pernyataan pejabat BI tersebut. “Besok (hari ini) rencananya akan kami keluarkan secara lebih rinci,” paparnya.

Sementara Bank Arta Niaga Kencana didirikan di Surabaya pada 18 September 1969. Bank ANK semula bernama PT Bank Surabaja Djaja, dan berubah nama menjadi PT Bank Arta Niaga Kencana sejak 10 April 1984.

Pada tahun 1989, Bank ANK memperluas usaha ke Jawa Tengah dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Bank ANK mampu meningkatkan statusnya menjadi Bank Devisa dan mendapatkan izin dari Bank Indonesia sebagai Bank Devisa.

Sedangkan Bank Swadesi akan diakuisisi oleh salah satu bank besar di India yakni Bank Of India. Bank Of India akan mengakusisi hingga 76 persen dari saham bank Indonesia yang memiliki visi menjadi bank fokus terbaik tersebut.

Senior Executive President Bank Of India Balanchandra mengemukakan bahwa ketertarikan pihaknya adalah disebabkan karena kesamaan visi dalam menangani mengenai sektor UKM. “Penjajakan telah dilakukan melalui beberapa waktu, jadi prosesnya tidak singkat,” katanya.

Dirinya juga optimistis dengan adanya kesamaan visi tersebut nantinya diharapkan bahwa proses pasca pembalian saham tersebut bisa menambah nilai lebih bagi para pemegang saham. Presdir Bank Swadesi Lisawati menambahkan bahwa saat ini jumlah CAR banknya masih berada diposisi 25 persen. Oleh karena itu, untuk sementara tidak akan penambahan modal. “Bank Swadesi akan memanfaatkan jaringan unit kerja internasional dari Bank Of India untuk mendukung kegiatan dan transaksi devisa yang dilakukan,” tutupnya.

No comments: