31 March 2008

Muslims Outnumber World's Catholics

By ALESSANDRA RIZZO,

AP

Posted: 2008-03-31 00:09:06


 

VATICAN CITY (March 30) - Islam has surpassed Roman Catholicism as the world's largest religion, the Vatican newspaper said Sunday.

The Vatican's newspaper reported that for the first time in history, there are more Muslims in the world than Roman Catholics. All groups of Christians still outnumber Muslims, according to 2007 estimates from the CIA World Factbook. Flip through the gallery to see how much of the world's population makes up different religions.

"For the first time in history, we are no longer at the top: Muslims have overtaken us," Monsignor Vittorio Formenti said in an interview with the Vatican newspaper L'Osservatore Romano. Formenti compiles the Vatican's yearbook.

He said that Catholics accounted for 17.4 percent of the world population — a stable percentage — while Muslims were at 19.2 percent.

"It is true that while Muslim families, as is well known, continue to make a lot of children, Christian ones on the contrary tend to have fewer and fewer," the monsignor said.

Formenti said that the data refer to 2006. The figures on Muslims were put together by Muslim countries and then provided to the United Nations, he said, adding that the Vatican could only vouch for its own data.

When considering all Christians and not just Catholics, Christians make up 33 percent of the world population, Formenti said.

Spokesmen for the Vatican and the United Nations did not immediately return phone calls seeking comment Sunday.

Copyright 2008 The Associated Press. The information contained in the AP news report may not be published, broadcast, rewritten or otherwise distributed without the prior written authority of The Associated Press. All active hyperlinks have been inserted by AOL.

2008-03-30 16:13:58

Comment :

As we know that making more children is a destiny, however in other religion, children is a burden.


 

28 March 2008

Gubernur Riau Marah


 

Jumat, 28 Maret 2008


Laporan TIM Riau POS, Pekanbaru rajaisyamazwar@riaupos.co.idAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Gubernur Riau HM Rusli Zainal, Kamis (27/3), marah dan menegur keras Kepala Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau, Humizri. Gubernur mengaku dirinya sangat kecewa dengan kinerja BKS dalam menangani korban banjir di Riau, terutama banjir Kota Pekanbaru.


Gubri menegur Humizri setelah sebelumnya menerima keluhan dari korban banjir di Rumbai yang mengaku kekurangan tenda dan bantuan bahan makanan saat mengungsi.

''Ya, saya menerima banyak masukan bahkan langsung dari warga yang terkena musibah soal buruknya kinerja BKS ini. Saya sudah menegur keras Kepala BKS dan minta bekerja lebih keras lagi,'' ujar Rusli Zainal.

Gubri yang pada Rabu (26/3) lalu meninjau korban banjir di Rumbai, awalnya mengaku heran dengan keluhan soal kekurangan tenda itu. Pasalnya, stok tenda milik BKS Riau masih banyak. Gubri juga sudah menginstruksikan agar BKS menyalurkan beras dan Diskes menyalurkan bantuan obat-obatan. Pembangunan dapur umum juga diminta segera dilakukan, bila memang itu diperlukan.

''Saya menyesalkan terjadinya kekurangan tenda bagi pengungsi di Rumbai karena itu saya minta kepala BKS sungguh-sungguh mendistribusikan tenda yang ada untuk dapat membantu para korban banjir yang terpaksa mengungsi,'' ujar Rusli Zainal.

Gubri juga menyayangkan laporan Humizri selaku kepala BKS yang selalu mengatakan stok tenda di gudang BKS terbatas dan tinggal 27 buah saja. Padahal setelah diteliti lebih jauh ternyata stok tenda lebih dari yang dilaporkan.

Seperti yang dilaporkan Kepala Sub Bidang Bantuan Sosial BKS Riau, Aliyus. Ia mengatakan stok tenda yang ada di posko penanggulangan bencana BKS saat ini berjumlah sekitar 130 tenda. Sementara yang telah didistribusikan ke daerah kabupaten/kota sekitar 100-an tenda.  ''Tenda yang sudah kita distribusikan ke kabupaten/kota masing-masing mencapai sepuluh hingga lima belas tenda. Sementara yang tersisa sekarang di posko BKS Provinsi Riau sekitar 130 tenda,'' jelas Aliyus.

Disinggung lambatnya distribusi tenda ke lokasi bencana banjir, menurut Aliyus dikarenakan lambatnya pihak kabupaten/kota mendistribusikannya ke lokasi bencana banjir. ''Kita dari BKS hanya menyediakan tenda dan mendistribusikannya ke masing-masing kabupaten/kota yang membutuhkan. Untuk pendistribusian ke lokasi bencana itu bukan wewenang kita, tapi itu tugas dari tim kabupaten/kota,'' tegasnya.

Sementara itu, kepada Riau Pos Gubri mengaku dirinya sudah memerintahkan Humizri untuk segera berkordinasi dengan Basarnas guna melaporkan kondisi terkini dan bantuan apa saja yang diperlukan guna memaksimalkan penanganan korban banjir di Riau.  ''Saya juga perintahkan Kepala BKS untuk segera ke Jakarta dan berkordinasi dengan Basarnas guna memaksimalkan penanganan korban banjir di Riau,'' ujar Rusli Zainal.

Sementara itu usai ditegur Gubernur, Humizri dikabarkan telah meminta maaf kepada gubernur dan berjanji memaksimalkan pendistribusian bantuan bagi korban banjir sesuai arahan gubernur.

Bangun Tenda di Tengah Jalan, Warga korban banjir di Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru di pengungsian mulai membangun tenda di tengah jalan, persisnya di Jalan Khadijah Ali, Pekanbaru. Selain itu, tak sedikit pula warga yang lebih memilih menetap di rumah dengan cara membuat pangking (panggung) di dalam rumah mereka, agar terhindar dari banjir.  

Sementara di sepanjang Jalan Yos Sudarso dari Jembatan Siak I sampai ke Jalan Sekolah sudah pula berjejer tenda-tenda darurat. Tenda-tenda itu, tidak hanya tempat tinggal sementara korban banjir, tapi juga tenda pihak-pihak yang peduli. Salah satunya, adalah tenda Dewan Kesenian Riau (DKR) yang mengerahkan para seniman peduli banjir.

''Ini hanya kegiatan spontan saja atas kepedulian seniman Riau terhadap nasib para korban banjir. Kami berharap, bantuan yang kami dapatkan bisa meringankan beban korban banjir,'' kata Ketua Umum DKR Eddy Akhmad RM kepada Riau Pos, Kamis (27/3). Ia juga langsung turun meminta sumbangan kepada pengguna jalan.

Sementara itu, data terakhir dari Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau yang juga selaku Sekretariat Koordinator Pelaksana (SAtkorlak) Provinsi Riau menyebutkan, banjir di sejumlah kabupaten/kota di Riau makin parah, terutama di Kota Pekanbaru, Kampar, Pelalawan dan Inhu. Sedangkan di Kuantan Singingi dan Rokan Hulu banjir mulai surut.

Kepala BKS Riau Humizri Husein melalui Kepala Sub Bagian Bantuan Sosial Drs H Alius ditemui Riau Pos, Kamis (27/3) siang menyebutkan, untuk Kota Pekanbaru banjir dilaporkan sudah menggenangi sebanyak 15 kelurahan di tujuh kecamatan.

Sehari sebelumnya, Rabu (26/3) banjir hanya menggenangi 12 kelurahan dari 6 kecamatan. Korban banjir di kawasan tersebut juga meningkat menjadi 12.022 KK dari 7.479 KK sebelumnya. Sedangkan korban mengungsi tercatat tetap 417 KK atau 1.790 jiwa.

Di Kabupaten Kampar, banjir meluas di kawasan Kampar Kanan. Dilaporkan sudah terdapat sebanyak 49 desa di tujuh kecamatan yang tergenang dengan korban jiwa 25.174 orang dan 6.010 KK.

Di Inhu, banjir juga dikabarkan kian meluas. Terakhir sudah terdapat sebanyak 63 desa yang tergenang di 10 kecamatan dengan korban rumah penduduk yang tergenang sebanyak 6.474 KK. Untuk Kabupaten Pelalawan, Alius menyebutkan, banjir juga meluas dan telah melanda sebanyak 28 desa di delapan kecamatan dengan korban rumah terendam sebanyak 1.900 KK.

Namun demikian, di Kabupaten Rokan Hulu yang merupakan kabupaten pertama melaporkan terimbas banjir di Riau sejak 5 Maret lalu, saat ini banjir hanya tinggal menggenangi dua kecamatan dari sembilan kecamatan yang tergenang sebelumnya. Banjir menggenangi sebanyak tujug desa dengan jumlah KK terendam sebanyak 3.157.

Kabar menggembirakan datang dari Pemkab Kuansing. Di kabupaten ini dilaporkan, banjir sudah benar-benar surut dan kondisi sudah kembali normal. Masyarakat hanya membersihkan sisa banjir. Dua hari lalu, banjir sempat menggenangi sebanyak 57 desa di sembilan kecamatan dengan korban rumah penduduk terendam sebanyak 3.674 KK. ''Tadi kami baru menerima laporan dari Pemkab Kuansing bahwa banjir di kawasan tersebut sudah surut dan tidak ada lagi rumah yang tergenang banjir,'' sebut Alius.

Minyak Tanah Rp7.000
Para korban banjir di Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru saat ini semakin menderita dengan kenaikan harga-harga keperluan pokok dan minyak tanah di daerah pengungsian mereka. ''Memasak semakin sulit. Harga minyak tanah pun sampai Rp7.000 per liter. Kami yang sudah menderita ini semakin susah,'' ungkap Kartini, seorang janda warga Jalan Nelayan dengan memelas. Padahal, harga minyak tanah di hari-hari biasa, paling tinggi hanya Rp2.400 per liternya.

Bukan harga minyak tanah itu saja yang dikeluhkannya, buruknya tempat penampungan dan tenda darurat yang mereka tempati juga membuatnya berkeluh-kesah. Dia berharap, pemerintah atau para dermawan segera mengirim tambahan bantuan tenda-tenda darurat.

Kartini menceritakan, saat malam kedua dirinya bersama sekitar 30-an jiwa warga berlindung di tenda darurat, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Tenda darurat yang mestinya menjadi tempat berlindung ternyata tidak berguna. Pasalnya air kembali naik dan merendam tenda darurat, sedangkan hujan terus mengguyur menyebabkan tenda bocor.

''Dari atas tumpahan air hujan tak berhenti. Dari bawah, air sungai kembali naik. Hari sudah tengah malam, kami tak dapat berbuat apa-apa, makanya akhirnya kami akhirnya pasrah saja,'' kata Kartini, yang mempersilakan Riau Pos melihat langsung tenda mereka.

Keadaan dalam tenda tersebut memang sangat memprihatinkan, ukurannya mungkin hanya 3 x 6 meter saja, tetapi dihuni lebih dari 30 jiwa. Di bawah tenda itu, barang-barang korban banjir seperti pakaian, peralatan rumah tangga sampai barang-barang elektronik, bertumpuk-tumpuk di satu sisi. Sementara pada sisi yang lain, terlihat gulungan kasur, tergeletak tak teratur di atas rerumputan.

Hanya satu dipan kayu saja yang ada di bawah tenda itu, dengan sprai merah terlihat bersih. ''Anak-anak yang tidur di dipan. Orang tua di bawah, berkasur di atas tanah,'' kata Kartini menambahkan. ''Tolonglah kami tenda tambahan Pak,'' katanya menutup.(ria/zum/mar/new/kaf)


 

Komentar :

Banjir sebenarnya gak perlu dimarahi, dan sebabnya juga sederhana saja yaitu sungai yang seharusnya tempat air keluar sekarang malah jadi saluran air masuk. Kenapa hal itu terjadi adalah karena tidak ada yang perduli dengan sungai, sungai menjadi tempat yang selalu dihindari, tempat yang tidak menyenangkan. Nah untuk itu apa tidak lebih baik kita ajak orang-orang mulai menyenangi sungai, dirawat, dikeruk dan dirapikan.

Hal yang lain adalah perkembangan kota yang pesat, terutama dengan dibangunnya perumahan-perumahan. Sayangnya banyak developer tidak berhitung dengan drainase. Nah alangkah baiknya jika setiap perumahan yang mengajukan ijin disetujui setelah drainase dibangun.